Mediakii.my.id -- Banjir bandang menerjang Provinsi Henan, Tiongkok, Selasa (20/7/2021) lalu. Provinsi berpenduduk 1,2 juta jiwa itu telah mengevakuasi lebih dari 200.000 orang ke tempat lebih aman. Di Ibu Kota Zhengzhou diketahui pula terdapat Warga Negara Indonesia (WNI) yang berdomisili sebagai pelajar.
Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok Cabang Zhengzhou, Haris Setiawan mengatakan, pihaknya memastikan kondisi WNI maupun pelajar Indonesia pasca banjir bandang dalam kondisi aman.
“Untuk WNI maupun pelajar Indonesia di sini semuanya aman, semua saya kontak masih ada response,” ungkap Haris dalam wawancara dengan Pro3 RRI, Kamis (22/7/2021).
Haris menjelaskan bahwa pihaknya telah menghubungi Kedutaan Besar RI (KBRI) di Beijing guna melaporkan adanya banjir bandang yang menerjang Ibu Kota Provinsi Henan.
“Saya menghubungi KBRI kalau ada banjir bandang di sini, mereka tahunya dari saya,” jelasnya.
Haris menggambarkan sejumlah wilayah di Provinsi Henan saat ini dalam tahap pemulihan pascabanjir.
“Untuk kondisi masing-masing di sini masih fokus pemulihan, jadi ada beberapa tidak ada listrik, air, internet sampai sekarang masih down,” terang mahasiswa yang sedang menempuh studi S2 di Universitas Zhengzhou ini.
Banjir di Provinsi Henan menyebabkan 12 orang meninggal dunia, setelah sempat terjebak di kereta bawah tanah bersamaan dengan terjangan air yang masuk secara deras.
Seorang penumpang mengatakan, dirinya hampir kehilangan tenaga sebab banjir yang datang sangat kuat.
“Banjir sangat kuat dan orang-orang ikut terseret. Ada orang lain dan saya. Kami hampir saja menyerah, sebab kami tidak memiliki kekuatan lagi. Tapi lengan saya terus berpegangan di rel,” ujar penumpang pria itu.
Pemerintah Tiongkok telah menerjunkan ribuan pasukan militer guna menangani banjir tersebut.
Anggota Militer RRT, Zhang Zhonghua menyebut para pasukan disebar ke sejumlah kota dengan fokus penyelamatan dan evakuasi massal.
“Tim kami telah bergegas ke Zhengzhou, Luoyang, Kaifeng dan tempat-tempat lain di wilayah tersebut. Kami fokus pada pengalihan banjir dan pencegahan pada penyelamatan dan evakuasi massal. Operasi penyelamatan masih berlangsung. Pasukan lain di Henan juga siap untuk berpartisipasi,” papar Zhang Zhonghua dalam wawancara dengan saluran CCTV.
Hingga Kamis (22/7/2021), jumlah korban meninggal akibat banjir bandang di Provinsi Henan bertambah menjadi 33 orang.
Sebelumnya, hujan dengan intensitas lebat telah terjadi sejak Sabtu 17 Juli lalu, sehingga menyebabkan Sungai Kuning dan waduk meluap.
Meski kerap dilanda hujan dengan intensitas tinggi tiap tahunnya, namun hujan dan banjir yang terjadi di wilayah Provinsi Henan kali ini disebut yang terburuk dalam 1.000 tahun terakhir di Tiongkok.
