Calon Pengantin cilik Ananta Saputra (11) dengan Callysta Wafiratu Yocelyn (9) warga Desa Sugihan Kecamatan Rambang Kabupaten Muara Enim, Sumsel memiliki kebiasaan adat mewah dengan puluhan paket seserahan berupa buah-buahan, roti, minuman, serta sepeda dan bahkan kalung emas diberikan calon mempelai pria, Minggu (24/10/21).
Sementara itu, Callysta dan Nanta pengantin cilik yang menjadi objek adat Kidahan suku Rambang itu mengaku sangat bahagia dan berharap kelak mereka mampu meraih mimpi untuk bersekolah tinggi hingga sukses dalam karirnya.
“senang, banyak dapat hadiah, tadi juga ada boneka besar” ungkap Callysta dengan polosnya bercerita.
Kidahan atau Tunangan cilik tidak menutup kemungkinan mereka berjodoh, hal tersebut hanya serangkaian adat dan tidak menjadi patokan untuk nantinya menikah dengan pria yang sudah di tunangkan. (sininews)
Kidah atau sering disebut Kidahan merupakan adat disebagian wilayah suku Rambang yang bertujuan menambah lingkaran keluarga besar. Dengan demikian keluarga besar pria yang tak asing disebut Tunang Cilik memberikan mas kawin seperti layaknya pengantin sungguhan.
Perkembangan adat istiadat “Kidahan” suku rambang yang kini mulai pudar dimakan waktu ditengah zaman yang serba modern, kini masih tersimpan kebiasaan jaman dulu yang dianggap lazim disebagian daerah.
Selain itu adat Nangkap atau Numpang Nari juga merupakan seni daerah rambang masih terlihat dilakukan disebagian desa dengan tujuan yang sama, namun kini tak banyak lagi daerah yang menerapkannya.
Ditempat lain, Asofa orang tertua dalam keluarga yang menggelar adat Kidahan itu mengaku kebiasaan dulu sangat jarang ditemui saat ini. Pergelaran adat yang sarat makna melalui pantun bersaut disaat calon pengantin pria datang menambah ramahnya adat dulu.
“Kidah Callysta ini sudah direncanakan 5 bulan sejak lahir dan itu serangkain adat kami, tujuannya hanya untuk berbagi kebahagian dengan keluarga dan masyarakat” jelasnya.
Sejak lahir anak wanita atau berkisar umur 5 bulan diwilayah rambang sudah direncanakan adat Kidahan dengan cara keluarga calon pria mendatangi rumah calon wanita untuk meminta izin menggelar Kidahan atau Tunangan Cilik.
Selain itu adat Nangkap atau Numpang Nari juga merupakan seni daerah rambang masih terlihat dilakukan disebagian desa dengan tujuan yang sama, namun kini tak banyak lagi daerah yang menerapkannya.
Ditempat lain, Asofa orang tertua dalam keluarga yang menggelar adat Kidahan itu mengaku kebiasaan dulu sangat jarang ditemui saat ini. Pergelaran adat yang sarat makna melalui pantun bersaut disaat calon pengantin pria datang menambah ramahnya adat dulu.
“Kidah Callysta ini sudah direncanakan 5 bulan sejak lahir dan itu serangkain adat kami, tujuannya hanya untuk berbagi kebahagian dengan keluarga dan masyarakat” jelasnya.
Sejak lahir anak wanita atau berkisar umur 5 bulan diwilayah rambang sudah direncanakan adat Kidahan dengan cara keluarga calon pria mendatangi rumah calon wanita untuk meminta izin menggelar Kidahan atau Tunangan Cilik.
Sementara itu, Callysta dan Nanta pengantin cilik yang menjadi objek adat Kidahan suku Rambang itu mengaku sangat bahagia dan berharap kelak mereka mampu meraih mimpi untuk bersekolah tinggi hingga sukses dalam karirnya.
“senang, banyak dapat hadiah, tadi juga ada boneka besar” ungkap Callysta dengan polosnya bercerita.
Kidahan atau Tunangan cilik tidak menutup kemungkinan mereka berjodoh, hal tersebut hanya serangkaian adat dan tidak menjadi patokan untuk nantinya menikah dengan pria yang sudah di tunangkan. (sininews)